Senin, 26 September 2016

Ada Kekacauan Lagi di Pertandingan Gulat

Bandung - Gulat Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX / 2016 Kembali kacau. Sebagai akibat dari gangguan dan juri Iran adalah korban. pemberontakan dimulai ketika seorang pegulat pegulat menghadapi Kalimantan, Jawa Barat di kelas 65 Freestyle di GOR Saparua, Bandung, Senin (25/9). Ketika permainan ketat dalam waktu, seperti yang dijelaskan kepada juri yang mencetak gol kemenangan 2-1 untuk atlet dari Jawa Barat.
 Pelatih Kaltim protes tiba-tiba dan mendekati ketua juri. Dari sana mulai pemberontakan yang. Pelatih Kaltim memprotes meja juri, kursi hubungi Juri dari Iran, Ali Akbar. Ali sudah punya tujuan lain.
 Insiden itu memicu penggemar dan melemparkan botol dan poster merusak sekitar kios. Pertandingan dibatalkan. Maurice Sihombing, salah satu hakim yang memimpin pertandingan gulat sore ini, bersama dengan Iran dan pelatih Thailand memberi sportif menyesalkan tindakan ini. Menurut dia, pemberontakan ini telah terjadi empat hari terus berjuang waktu 4.
Dan jika kita mengikuti sesi teknis kesepakataan yang dilakukan, semua telah sepakat untuk penggunaan diterapkan oleh juri yang menggunakan aturan lama, yang pada bulan Oktober 2015 dan di Malang pada saat Pra PON diterapkan aturan yang.
 Ironisnya, ini juga merupakan keputusan bersama yang pada akhirnya menimbulkan protes oleh para peserta. Meskipun hakim yang membuat game ini telah tetap netral, yaitu, wasit internasional dari Thailand dan Iran, sementara Indonesia diwakili Maurice juri. Maurice digunakan untuk menjelaskan pertanyaan, aturan lama dengan yang baru PON dalam pertandingan gulat tidak dapat dijelaskan secara rinci.
Dia hanya menyebut aturan hanya perbedaan kecil. dikosongkan sebagai akibat dari insiden Arena ini dan orang-orang bubar. Kemudian Iran wasit dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi dan video itu diambil sebagai bukti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar